Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya dalam suatu kegiatan atau aktivitas juga pada filsafat pendidikan. Beberapa aliran filsafat yang digunakan dalam dunia pendidikan.

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan


1. Aliran Filsafat Idealisme

Idealisme merupakan filsafat tertua dengan tokoh aliran ini adalah Plato (427-347 SM) yang dianggap sebagai Bapak Idealisme di dunia Barat.

2. Aliran Filsafat Perenialisme.

Aliran filsafat Perennial berpegang pada nilai-nilai atau norma-norma yang bersifat abadi.

3. Aliran Filsafat Esensialisme.

Aliran filsafat Esensialisme muncul pada zaman renaissance merupakan perpaduan ide filsafat idealisme objektif di satu sisi dan realisme objektif di sisi lainnya.

4. Aliran Filsafat Progresivisme.

Filsafat progrevisme dalam pendidikan adalah suatu aliran yang menekankan, bahwa pendidikan bukanlah sekedar pemberian sekumpulan pengetahuan kepada subjek didik tetapi hendaklah berisi aktivitas-aktivitas yang mengarah pada pelatihan kemampuan berpikir mereka.

5. Aliran Filsafat Pragmatisme

Aliran ini memandang realitas sebagai Sesuatu yang secara tetap mengalami perubahan terus menerus. 

sumber lengkap Aliran-aliran Filsafat Pendidikan


Memilih Pensil Staedtler Untuk Anak

Mengapa harus memilih Pensil Staedtler untuk anak? Bukankah semua pensil itu sama? Sebelum memutuskan membeli pensil, kita harus tahu keinginan dan kegunaan pensil yang akan dibutuhkan. Jika ingin anak dalam membuat gambar atau tulisan tidak sering patah maka anda harus menggunakan pensil yang kuat.

Memilih Pensil Staedtler Untuk Anak


Namun jika anal ingin membuat gambar dengan warna warni maka harus menggunakan Pensil warna water colour base.  Pensil Staedtler tersedia untuk Anak baik untuk menulis arau menggambar dengan kualitas bagus.

Ada hal yang penting dalam memilih pensil, merek kadang menentukan hasil sebuah tulisan arau gambar. Merek pensil warna yang bagus biasanya memiliki pigmen warna yang tajam atau sering disebut mentereng seperti Staedtler Pensil Terbaik Untuk Anak

Pigmen pensil tersebut diikat oleh pasta sejenis lilin, jika pensil kurang bagus maka ketika kita membuat coretan arsiran rasanya akan seperti keras saat menggores. Ciri pensil yang sifatnya bagus adalah ketika kita membuat coretan arsiran maka sifatnya akan lembut dan kita akan merasa goresan antara pensil dan kertas sifatnya empuk dan nyaman.

Juga pensil yang kita gunakan mudah untuk dikendalikan ketika kita akan membuat gradasi warna. Dipasaran ada beberapa Brand ternama selain Staedtler seperti Faber-Castell, Derwent, Lyra, Prismacolor, Caran d’Ache dll.

Beberapa merek resebut mungkin asing ditelinga anda, kecuali  Staedtler yang sudah cukup lama ada, namun anda bisa memilih merek yang familiar yang saya sebutkan diatas.

Mengerjakan Psikotes dengan Lancar

Pada saat mengerjakan psikotes terdapat beragam soal dan soal matematika merupakan soal yang paling banyak dihindari.

Mengerjakan Psikotes dengan Lancar


Tes aritmatika terdiri dari deretan angka dan tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan analisa dengan memahami pola tertentu. Untuk mengerjakan tes ini diantaranya adalah perhatikan pola keseluruhan dan jangan terpaku pada 3-4 angka pada deretan terdepan, jangan lupa tentang batas waktu pengerjaan saat Anda sedang terpaku saat mengerjakan soal yang hendak dipecahkan. Untuk melatih kemampuan, dapat dilakukan dengan mengerjakan materi deret ukur pada buku tes SPMB/UMPTN.

Tes logika penalaran yang bentuk soalnya terdiri dari deret angka 2 atau 3 dimensi untuk dapat mengukur kemampuan berdasarkan pola gambar sehingga dapat melakukan dan memberikan prediksi berdasarkan pada pola gambar yang diberikan. Tips untuk mengerjakan test ini adalah berkonsentrasi dan mengerjakannya dengan hati-hati dan teliti karena bentuk atau pola gambar hampir sama.

Analog verbal yang berisi soal mengenai sinonim/analog kata atau antonim kata yang tujuannya untuk memahami mengenai sebab-akibat permasalahan. Tips mengerjakan tes ini adalah menghafal soal dan jawaban jika Anda memiliki masalah untuk berkonsentrasi dan memiliki masalah dengan logika karena soal yang diberikan relatif sama. Tes lain yang mungkin ada di psikotes adalah Army Alpha Intelligence yang terdiri dari 12 soal kombinasi dari deretan angka dan bentuk dan terkadang terdapat kaitan dengan soal yang sebelumnya. Tipsnya adalah berkonsentrasi dan sabar.

Psikotes yang mungkin muncul adalah EPPS atau Edwards Personal Preference Schedule yang berisi mengenai pilihan jawaban yang mencerminkan mengenai kepribadian Anda dan bertujuan untuk mengetahui motivasi, kebutuhan dan motif seseorang.

Tips untuk mengerjakannya yaitu:
  • Jawab pertanyaan sesuai dengan kondisi Anda yang sebenarnya atau yang mendekati.
  • Jika tidak ada jawaban yang mendekati atau dapat diakali, dapat disesuaikan pada lowongan pekerjaan yang Anda pilih.
  • Memperbaiki diri seperti profesional yang akan jujur, menepati janji, disiplin dan tanggung jawab.

 Tips untuk psikotes ini yaitu:

Draw man test (tes menggambar orang) untuk mengetahui kepercayaan diri, tanggung jawab, ketahanan kerja dan kestabilan. Tipsnya yaitu:

  • Menggambar orang secara utuh dari kepala hingga kaki dan memperlihatkan detail mulai dari mata, mulut, hidung, telinga.
  • Sebaiknya menggambar orang yang sedang beraktivitas misalnya mencangkul atau menenteng tas.


Tips untuk drawing tree (menggambar pohon) yaitu:

  • Gambar pohon yang bukan merupakan pohon monokotil atau berbiji tunggal. Gambarlah pohon yang besar dan berkambium yang memiliki kekuatan.
  • Jika bisa, usahakan untuk menggambar pohon secara detail dan rinci misalnya bentuk daun, buah, akar, tangkai.
  • Untuk melatihnya, Anda dapat menggambar berdasarkan pada gambar pohon yang dipotret.


Menggambar rumah pohon orang atau house tree person dengan trik adalah semakin besar ukuran rumah, akan semakin berpengaruh pada kehidupan dan usahakan untuk detail.

Hal Penting tentang Dapodikdas 2015

Hal Penting tentang Data Pokok Pendidikan Dasar (Dapodikdas) tahun 2015



  1. Nantinya akan banyak program kemdikbud yang tergantung pada Dapodikdas, seperti BOS, UN, BSM, bantuan-bantuan blockgrant dll, maka  DATA DAPODIK harus valid dan akurat.
  2. Untuk pencairan BOS 2015 akan dihitung berdasarkan jumlah siswa pada dapodikdas. 
  3. Siswa yang memiliki kartu BSM/KPS harus dientrikan pada aplikasi dapodikdas untuk menjadi acuan bantuan KIP (Kartu Indonesia Pintar).
  4. Bantuan-bantuan blockgrant sarana, rehab, RKB dll akan dilihat dari data sarana prasana pada dapodikdas, maka data tersebut harus menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Perhatikan KELENGKAPAN, KEBENARAN DAN KEMUTAHIRAN DATA. Ajuan proposal tidak akan diterima lagi.
  5. Pada aplikasi dapodikdas yang akan datang akan ada tabel khusus untuk mendata penduduk usia sekolah tetapi tidak bersekolah yang berada di lingkungan sekitar sekolah. 
  6. Dapodikdas menjadi satu-satunya data yang digunakan kemdikbud, nanti untuk penerbitan NUPTK dari PDSP.

Selengkapnya: Dapodikdas 2015 Harus akurat

Operator Sekolah UPTD Pendidikan Palengaan

Seluruh Operator Sekolah di lingkungan kerja UPTD Pendidikan Kecamatan Palengaan akan mengadakan kegiatan pertemuan rutin sebulan sekali pada setiap hari Sabtu  minggu ke empat.

Operator Sekolah

Operator Sekolah UPTD Pendidikan Palengaan

Jadwal Pertemuan : Sabtu, minggu ke empat setiap bulan
Tempat : UKG Palengaan, Ds Larangan Badung
Waktu : 08.00 sampai selesai

Catatan: Pertemuan Operator Sekolah UPTD Pendidikan Palengaan dapat dilaksanakan sewaktu-waktu jika ada informasi penting.

http://www.cabdinpalengaan.net/2014/04/pertemuan-operator-sekolah-uptd.html

Pedoman Membuat Proposal PTK

pedoman ptk
Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) merupakan suatu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa meningkat. Ciri-ciri Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian berawal dari kerisauan guru akan kinerjanya, metode utama adalah refleksi diri, bersifat agak longgar, tetapi tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian, fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran, tujuannya memperbaiki pembelajaran.

Karena itu guru selayaknya dapat dan mampu untuk membuat PTK sendiriyang berguna untuk memecahkan masalah yang ada dalam proses pembelajarannya. Sebelum membuat Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) seorang guru terlebih dahulu membuat proposal PTK yaitu rencana yang dituangkan dalam rancangan kerja untuk melakukan penelitian tindakan kelas.

Pedoman Membuat Proposal PTK


Proposal PTK merupakan rancangan penelitian sehingga bentuk dan isi merupakan ringkasan penelitian tindakan kelas serta lebih sederhana daripada hasil laporan PTK. Biasanya Proposal PTK terdiri dari:

Halaman Depan

A. JUDUL PENELITIAN

B. BIDANG ILMU

C. PENDAHULUAN

D. PERUMUSAN MASALAH

E. CARA PEMECAHAN MASALAH

F. TINJAUAN PUSTAKA

G. TUJUAN PENELITIAN

H. KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN

I. METODE PENELITIAN

J. JADWAL PENELITIAN

K. PERSONALIA PENELITIAN

Lampiran-lampiran

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Pedoman Membuat Proposal PTK (Penelitian Tindakan Kelas)

Silahkan mendownload di sini.

Kami juga menyertakan contoh Proposal PTK dengan judul ” MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPA DENGAN METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY”

Silahkan mendownload di sini


KATUP PENGAMAN KURIKULUM 2013

KATUP PENGAMAN KURIKULUM 2013
Prof. Suyanto, Ph.D
(Plt.) Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud

Kurikulum 2013 pasti dilaksanakan di sekolah-sekolah di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun ajaran baru ini pada pertengahan Juli. Meskipun demikian, sekolah-sekolah di bawah koordinasi Kementerian Agama belum akan melaksanakannya. Kemenag tampaknya sangat mendengarkan saran para pakar pendidikan—juga para tokoh masyarakat penyelenggara pendidikan swasta—di negeri ini agar pelaksanaan Kurikulum 2013 terlebih dahulu diawali dengan mempersiapkan daya dukung Kurikulum 2013. Hal tersebut terutama dalam bidang sumber daya manusia, seperti guru, kepala sekolah, dan pengawas.Perbedaan pandangan antara Kemenag dan Kemdikbud itu justru bagus, dalam arti nanti bisa dinilai kisah suksesnya dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. Penilaian tersebut nantinya akan bisa menjadi pelajaran berharga manakala kita harus mengimplementasikan sebuah kurikulum baru.
Kurikulum 2013 memang belum disosialisasikan secara intensif; yang ada baru uji publik melalui berbagai media dan forum pertemuan. Sosialisasi tentu berbeda dengan uji publik. Sosialisasi lebih bersifat mengenalkan konsep yang telah kuat dan siap dilaksanakan setelah melalui berbagai uji publik agar konsep Kurikulum 2013 benar-benar telah mantap dilihat dari berbagai aspek. Sebutlah aspek pedagogi, pendekatan, kesiapan buku, guru, kepala sekolah, alat evaluasi, bahkan pemerintah daerah sebagai unsur pemerintahan yang akan melaksanakannya di era desentralisasi seperti saat ini. Pertanyaannya, apakah jika demikian Kemdikbud tidak mendengarkan berbagai usulan dan kritik dari masyarakat? Kemdikbud juga mengakomodasi berbagai saran dari berbagai pihak. Namun, saran untuk menunda pelaksanaan kurikulum sampai tahun depan, sebagaimana yang telah diputuskan Kemenag, memang tidak. Meski demikian, Kemdikbud rela menurunkan target pelaksanaan yang awalnya sangat ambisius menjadi target yang sangat kecil dibandingkan dengan cita-cita awal, yaitu 30 persen dari total SD serta seluruh SMP dan SMA/SMK. Bila dilaksanakan, target itu akan melibatkan 44.606 SD, 35.596 SMP, dan 22.251 SMA/SMK, paling tidak 676.414 guru untuk ditatar dalam waktu singkat, serta sekitar 78 juta buku harus dicetak dan didistribusikan.
Setelah melalui berbagai kritik baik yang pedas maupun yang halus dan santun, akhirnya Kemdikbud sadar, cita-cita untuk melaksanakan Kurikulum 2013 secara masif tidaklah mungkin. Akhirnya, sampailah pada target yang sangat lebih masuk akal dan realistis, yaitu hanya meliputi 6.325 sekolah untuk seluruh jenjang (SD 2.598, SMP 1.436, SMA 1.270, SMK 1.021), dengan jumlah rombongan belajar 14.805, jumlah guru hanya 55.762 orang, dan jumlah buku yang harus dicetak dan didistribusikan turun drastis: tinggal 9.767.280 eksemplar.
Kunci sukses
Pertanyaan implementatif yang harus dijawab, siapa saja pemegang kunci sukses terpenting dalam pelaksanaan Kurikulum 2013? Jawabnya: guru. Jadi, guru merupakan unsur terpenting dari pemangku kepentingan pendidikan dalam konteks implementasi Kurikulum 2013. Karena itu, guru harus ditatar dan memang akan ditatar selama enam hari kerja sebelum melaksanakan Kurikulum 2013. Siapa saja yang menentukan sukses dalam pelatihan guru? Kunci sukses pelatihan guru itu akan terletak pada 60 narasumber nasional yang akan memberikan penyegaran kepada 372 instruktur nasional. Kemudian, secara hierarkis 372 instruktur nasional itu akan memberikan pelatihan kepada 3.036 guru inti. Di tangan guru inti inilah, keberhasilan mengubah cara berpikir para pelaksana Kurikulum 2013 akan bergantung. Pada lapis paling akhir, guru inti tersebut akan melatih 6.325 kepala sekolah dan pengawas yang sekolah mereka terpilih jadi target pelaksanaan Kurikulum 2013 beserta 55.762 gurunya sekaligus.
Dari tugas pelatihan itu, yang penting adalah harus mampu mengubah cara pandang guru untuk bisa berpikir dengan cara, metode, dan evaluasi yang baru sesuai tuntutan Kurikulum 2013. Tugas paling berat ialah melatih para guru SD, yang pada kurikulum baru ini mengalami perubahan pendekatan pembelajaran secara signifikan: dari pendekatan bidang studi beralih ke pendekatan tematik integratif. Dalam proses belajar, orang selalu dilibatkan dalam tiga kegiatan utama: to learn (belajar); to relearn (belajar kembali); dan to unlearn (melupakan). Dari tiga kegiatan itu, yang paling sulit dilakukan adalah to unlearn. Guru SD bertahun-tahun memiliki pengalaman dan pengetahuan lama mengenai kurikulum dengan pendekatan bidang studi. Tantangan bagi guru inti ketika melatih mereka adalah mampu tidak mengubah cara pandang guru SD dari pembelajaran bidang studi menjadi pembelajaran tematik integratif. Pertanyaan itu adalah persoalan how to unlearn dalam teori pelatihan dan pembelajaran modern. Hal itu jauh lebih sulit dilakukan daripada how to learn dan how to relearn.
Pendampingan
Kalau pelatihan tidak bisa mengubah pola pikir dan cara pandang para guru, katup pengaman terakhir terletak pada pendampingan di kelas ketika para guru mengajarkan kurikulum baru nanti. Pendampingan akan efektif untuk membelajarkan para guru dalam melaksanakan Kurikulum 2013. Para pendamping nanti akan jadi model bagi guru pelaksana Kurikulum 2013 di kelas. Karena itu, tim pendamping Kurikulum 2013 yang terdiri atas kepala sekolah inti, pengawas inti, dan guru inti akan menjadi katup pengaman strategis bagi sukses implementasi Kurikulum 2013. Apa lagi pemegang kunci sukses Kurikulum 2013? Jawabnya adalah pengadaan buku. Buku ajar, buku pedoman, dan juga buku mengenai dokumen kurikulum. Itu semua sangat penting bagi guru yang akan melaksanakan kurikulum. Jika buku-buku itu datang tidak tepat waktu, dijamin para guru akan panik dan tidak percaya diri dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. Karena itu, jangan sampai distribusi buku mengalami keterlambatan seperti distribusi soal UN yang baru lalu. (Sumber: Kompas 8 Juli 2013)
Prof. Suyanto, Ph.D
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta
(Plt.) Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud

Kurikulum Pendidikan Haruslah Memberi Tantangan bagi Siswa

Kurikulum Pendidikan  Haruslah Memberi Tantangan bagi Siswa

Prof. Suyanto, Ph.D Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta


Para ilmuwan tanpa mengenal lelah telah meneliti berbagai faktor penting yang berkontribusi pada kesuksesan hidup. Mereka tertarik mencari faktor penentu yang secara signifikan bisa digunakan untuk memprediksi sukses kehidupan. Dari penelitian itu ditemukanlah faktor-faktor penting yang ikut menyumbang kesuksesan seseorang. Faktor-faktor penentu sukses itu akhirnya diterjemahkan oleh para ahli pendidikan ke dalam kurikulum dan program pembelajaran.Pendek kata, dengan ditemukannya faktor penentu sukses itu, dunia pendidikan juga ikut berlomba-lomba dan berkontemplasi untuk merumuskan filosofi, paradigma, strategi, dan metodologi pembelajaran. Pada gilirannya, rumusan itu digunakan untuk mengonstruksi kurikulum yang mampu memberi bekal ilmu dan pengetahuan kepada peserta didik untuk mendaki kesuksesan hidup.

Faktor signifikan yang telah mendapat perhatian luas untuk memprediksi sukses seseorang, antara lain intelligencequotient(IQ, kecerdasan otak) dan emotional quotient(EQ, kecerdasan emosional). Kecerdasan yang disebut terakhir, oleh penemunya, Daniel Goleman (1995), diberi nama  emotional intelligence, bukan emotional quotient. Kelahiran EQ membuat arah baru pendidikan secara luas. Sebab, dalam banyak penelitian terbukti IQ tak lagi menjadi satu-satunya prediktor sukses peserta didik di masa datang.
Sebelum muncul EQ, IQ-lah yang didewa-dewakan dunia pendidikan untuk mempermudah pekerjaan pembelajaran dalam memberibekal atau virus sukses peserta didik atau bahkan mahasiswa sekalipun. Implikasinya, pengembangan kurikulum hampir di seluruh dunia pada era jayanya IQ selalu berorientasi pada upaya bagaimana mengemas program pembelajaran yang bisa memberikan kecerdasan  otak secara maksimal kepada para peserta didik.

Setelah EQ ditemukan oleh Goleman, kurikulum serta-merta harus dan mutlak memperhatikan faktor-faktor non-kognitif, seperti kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, pengendalian emosi, dan memahami emosi orang lain. Bahkan, Goleman mengklaim IQ hanya berkontribusi 20 persen terhadap kesuksesan peserta didik setelah mereka hidup dalam masyarakat nantinya. Ternyata 80 persen justru ditentukan oleh faktor lain di luar IQ, di mana EQ masuk di dalamnya secara signifikan.Oleh karena itu, jika suatu bangsa ingin membuat kurikulum yang bisa mengantarkan para peserta didik jadi orang sukses, kurikulum itu juga harus
memberikan menu belajar yang mencakup aspek lain selain kecerdasan, seperti sikap, perilaku, kepribadian, keberagamaan, budi pekerti, dan kecerdasan otot (muscle memory).

Bahkan, praksis pendidikan di Jepang memasukkan aspek memori dan kecerdasan otot dalam kurikulumnya sejak kelas I dan II SD melalui aktivitas otot (keterampilan) dalam bentuk kegiatan origami secara intensif. Origami mampu menanamkan kepada para siswa sifat dan sikap kreatif, inovatif, sekaligus membangun kecerdasan/ingatan otot para siswa.”Adversity Quotient” Sudah lengkapkah prediktor kesuksesan yang bisa dikemas dalam kurikulum setelah adanya penemuan IQ, EQ—juga spiritual intelligent (SQ, kecerdasan
spritual), dan kecerdasan otot? Ternyata belum! Dunia ilmu pengetahuan tetap melakukan penelitian untuk membuat prediktor kesuksesan memiliki daya prediksi yang makin robust, semakin kecil kesalahannya sampai mencapai derajat kepercayaan 99 persen. Atau tingkat koefisien alpha 0,01 jika kita meminjam terminologi uji signifikansi statistik inferensial. Prediktor baru itu adalah adversity quotient (AQ).
Dua tahun setelah Daniel Goleman menemukan EQ, muncullah AQ yang ditemukan oleh Paul Stoltz (1997). Aplikasi AQ dalam proses pendidikan memang belum seluas aplikasi EQ dan SQ. Saat ini, AQ banyak diaplikasikan dalam perusahaan besar untuk kepentingan rekrutmen dan pelatihan pegawainya.

Dunia pendidikan juga harus memanfaatkan temuan Paul Stoltz ini. Mengapa demikian? Karena AQ pada hakikatnya merupakan kapasitas seseorang untuk menghadapi berbagai bentuk tekanan dan etidaknyamanan hidup dalam situasi tertentu. Orang yang AQ-nya tinggi akan tahan banting, dalam arti fisik, mental, dan
kejernihan berpikir. Lebih penting lagi, ia segera bisa kembali ke keadaan normal setelah berhadapan dengan berbagai tekanan dan tantangan. Sebaliknya, orang yang AQ rendah akan selalu menyalahkan lingkungan
ketika dia gagal sehingga dia tidak dapat mengambil keputusan untuk menuju sukses. Bidang keilmuan AQ ditopang tiga pilar utama: psychoneuroimmunology, neuropsychology, dan cognitive psychology.

Orang hidup tak ada yang bebas dari tekanan dan tantangan. Dokter punya tekanan saat di meja operasi, wartawan memiliki tekanan dan tantangan ketika harus menghadapi tenggat berita, menteri dan presiden selalu menghadapi tekanan dari ekspektasi masyarakat. Siswa pun selalu menghadapi tekanan dan tantangan ketika harus belajar materi baru yang jauh lebih sulit, datang dan pulang tepat waktu, dan menyerahkan tugas individu serta kelompok. Kalau semua tekanan itu berhasil dilewati, sukseslah mereka. Kalau gagal, akan reduplah suasana hati dan pikiran saat itu.

Hidup adalah Tantangan

Oleh sebab itu, kapasitas untuk bisa menghadapi berbagai tekanan harus diajarkan dan dilatih sejak mereka duduk di bangku sekolah. Siswa perlu mengalami sendiri berbagai prosedur serta proses ilmu dan pengetahuan. Kerena itu, kegiatan mengamati, bertanya, menalar, bereksperimentasi, juga pengalaman membangun jejaring perlu diakomodasikan dalam sebuah kurikulum. Dengan cara seperti itu, siswa akan bisa merespons berbagai kemungkinan dan tekanan hidupnya kelak setelah hidup dalam masyarakat. Respons positif terhadap tekanan yang dihadapi siswa akan memberi jalan kepada kesuksesan hidup kelak.
Belajar tidak cukup hanya yang bersifat menyenangkan, tetapi juga harus menantang bagi siswa kita. Mengapa begitu? Karena hidup identik dengan tantangan.

Kurikulum dan proses pembelajaran perlu memberi tempat yang cukup agar siswa bisa melakukan observasi, analisis, hipotesis, sintesis, dan mencari solusi terhadap tantangan yang dihadapi dalam proses belajarnya. Sebab, pada saatnya nanti, meminjam konsepnya Jerome Brunne, para siswa akan melakukan apa yang disebutnya  transfer of learning and principlesdalam kehidupan nyata.

Jadi, belajar tidak cukup dengan pendekatan yang menyenangkan semata. Selebihnya, harus menantang agar siswa bisa berlatih untuk membangun AQ-nya. Semoga begitu.

Prof. Suyanto, Ph.D
Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta
(Plt.) Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud